Jika Anda berlibur ke Yogyakarta, Anda akan disuguhkan berbagai kesenian tradisional di banyak titik lokasi terutama di daerah wisata. Mulai dari patung-patung yang dipajang di pinggir jalan, pantonim di sekitar malioboro yang siap diajak berfoto, hingga kesenian musik di pinggir jalan. Salah satunya adalah angklung.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (sat pol PP) GBPH Yudaningrat, mengungkapkan saat ini marak pengamen angklung yang ada di perempatan lampu merah. Hal ini tidak sesuai dengan undang-undang lalu lintas. Walaupun menghibur wisatawan, pengamen ini harus diatur demi kenyamanan dan ketertiban.

“Peringatan sudah dua kali karena UU Lalu Lintas tidak boleh. Tidak boleh ada kegiatan di jalan. Walikota bupati segera menindaklanjuti penempatan pengamen angklung karena karena kemarin diperbolehkan oleh kepala dinas pariwisata tapi angklung bukan adat istiadat Jogja,” kata Yuda di Kompleks Kepatihan Selasa (7/3/2017).

Ia menjelaskan pihaknya telah menyarankan pengamen jalanan angklung untuk ditata oleh Bupati dan Walikota. Pengamen angklung ini akan ditempatkan di area kegiatan ekonomi di pasar, atau di area depan toko tempat wisata. Karena Yogyakarta menerima semua budaya yang dari luar, namun penempatan aktivitasnya juga harus sesuai dengan aturan.

Gusti Yuda nenambahkan saat ini anggota Satpol PP DIY yang berjumlah 128 orang selalu berkoordinasi dengan Satpol PP kota dan kabupaten terkait pengamen angklung. Pihaknya akan segera bertemu dengan walikota dan bupati terkait keberadaan pengamen angklung di jalanan kota Yogyakarta.

loading...